Uzlifah Rusydiana

Belajar dan terus belajar... ...

Selengkapnya
Berburu Koran Cetak

Berburu Koran Cetak

Menulis di media cetak sejatinya tidak semata untuk gaya-gayaan, pamer, dan menyombongkan diri. Lebih dari itu, penting kiranya sesekali mengasah kompetensi menulis dan merasakan sensasinya saat lolos seleksi dari meja redaksi. Ada kepuasan tersendiri di sana.

Bagi saya, tulisan yang diunggah di mana pun, baik media cetak maupun online, semua saya jadikan sebagai ajang latihan. Terus dan terus belajar agar tulisan menjadi lebih layak dan enak dibaca. Mengalir, lunyu, dan punya ciri khas. Sungguh tak semua orang mampu melakukannya. Namun, semua menjadi mungkin jika terus berlatih, terbuka akan kritikan teman, berusaha memperbaiki, dan jangan lupakan satu amunisi penting: membaca.

Dengan perkembangan teknologi yang kian pesat dan serbadigital. Situs berita online pun semakin menjamur. Semua berlomba-lomba menyuguhkan informasi secara akurat dan aktual. Pada akhirnya, banyak pembaca mengubah pola konsumsi informasi dari cetak ke online.

Mereka lebih memilih berburu koneksi internet daripada koran cetak. Tak dapat dimungkiri, banyak manfaat yang diperoleh dari berita online. Di antaranya, lebih efisien, mendapatkan informasi terkini hanya dalam hitungan detik, dapat diakses kapan dan di mana saja selama ada koneksi internet. Selain itu juga ramah lingkungan tentunya, meski sampah kertas pun bisa didaur ulang.

Fakta di atas secara langsung berimbas pada eksistensi media cetak. Banyak kita temui beberapa perusahaan harian lokal maupun nasional melakukan perampingan karyawan hingga tutup usia. Bagaimana tidak mengibarkan bendera putih, jika pertumbuhan oplah koran kian merosot.

Dampak meningkatnya konsumsi berita online ini juga dirasakan oleh agen koran daerah hingga pedagang koran eceran. Salah satunya di Kota Mojokerto. Saya punya pengalaman terkait hal ini.

Seperti biasa, beberapa hari lalu, saya mengirim reportase ke salah satu media cetak, Harian Surya. Melalui grup publik Cipoer (citizen reporter) Harian Surya di facebook, admin selalu mengunggah link berita online yang akan tayang esok hari versi cetaknya.

Tentu hal ini memudahkan para penulis. Bisa hunting koran pada jam-jam pagi sebelum kehabisan. Saya pun kerap melakukannya. Selepas shalat Subuh, langsung hunting. Lima sekaligus, hehee...itu dulu. Sekarang, admin tak pernah lagi mengunggah link berita online via facebook.

Jika ingin berburu, langsung saja kunjungi websitenya. Namun, berita onlinenya pun diunggah beberapa hari pasca versi cetak. Berbeda jauh dengan tradisi lama. Entah mengapa. Berpikir positif saja. Meski demikian, tetap harus disyukuri. Setiap hari admin masih mengunggah e-paper pada hari itu di grup fb pada sore harinya. Dengan demikian, kita bisa tahu muncul tidaknya berita yang kita kirimkan. Penting bagi yang tidak berlangganan koran seperti saya. Jhiaaaaa.....

Setelah seminggu lalu mengirimkan berita, akhirnya tayang juga pada Kamis (14/3/2019). Alhamdulillah....eh karena dihajar dengan berbagai kesibukan, saya pun tak sempat membuka facebook. Hiks....baru tahu pukul 22.36. Sambil terus bedoa, berharap masih ada koran tersisa pada esok hari di agen koran terlengkap langganan saya. Tepatnya di Jalan Pahlawan. Saya sering menjumpai banyak koran tersisa pada tanggal-tanggal sebelumnya.

Dengan semangat membara, hari ini, selepas Subuh meluncur ko lokasi. Perjuangan dimulai. Hiks....rasanya ingin gulung-gulung sambil meloncat-loncat gegara tak sanggup menerima jawaban dari sang penjual. Habis. Iya...koran Surya Kamis kemarin sudah tak bersisa satu pun. Makcuuu.....huwwaaaa....

“Sampeyan ke Jalan Majapahit saja. Ada kios koran di sana. Pas di sebelah selatan rel kerata api. Nama penjualnya, Mas Roni. Biasanya masih ada koran tanggal kemarin. Pukul 05.30 sampai 08.00. Jangan siang-siang!” tutur salah satu pembeli menyarankan.

“Atau tunggu saja di sini sebentar. Biasanya Mas Roni ke sini sekitar pukul 05.00!” saran pembeli lainnya.

Oke deh. Saya tunggu saja sebentar. Batin saya. Eh...yang ditunggu-tunggu tak muncul juga hingga pukul 05.20. Baiklah, saya pamit. Nanti saja menemui Mas Roni di kios yang dimaksud pembeli tadi. Saya mau pulang. Menyiapkan keperluan sekolah si kecil.

Huwaaa.....lagi-lagi zonk. Habis juga di kios Mas Roni.

“Mbak, di situ ada dealer motor. Kemarin saya ngirim koran ke sana. Karyawannya baik-baik, kok, asli Jawa. Mbak minta saja. Pukul 08.00 nanti baru buka. Bilang saja diberi tahu Mas Roni,” saran Mas Roni sambil menunjuk dealer motor dekat kiosnya.

“Whaattt!! Kenal saja tidak, mau minta koran, nggak ah, Mas,” jawab saya.

“Ya sudah, kalo mau, Mbak tunggu saja di sini biar saya nanti yang mintakan,” kata Mas Roni menenangkan saya.

Oouughhh....Makcuuuu....

Saya pun duduk di kursi sambil berbincang dengan Mas Roni. Sesekali Mas Roni melayani pelanggannya. Setiap pelanggan yang datang membeli, ditanya juga apakah punya koran Surya Kamis kemarin. Hiks...terharuuu...

Mas Roni mulai bercerita. Pelanggannya menurun drastis. Dulu, 80 hingga 100 eksemplar Jawa Pos, habis dalam sehari. Sekarang, 20 saja kadang masih sisa. Koran yang lain hanya ada lima stok tiap harinya. Dulu, menunggu kios koran adalah pekerjaan utama Mas Roni. Pelanggan datang pergi hingga sore hari. Namun sekarang, pukul 09.00 harus tutup dan berganti pekerjaan lain. Penjual cilok keliling. Begitulah keseharian Mas Roni.

“Jika tak begitu, saya tak bisa nabung, Mbak,” cerita Mas Roni.

“Subhanallah....,” batin saya. Terharu sekali mendengarnya. Kegigihan dan semangatnya sangat tampak dari muka dan gaya biacaranya. Pantang menyerah menjalani kerasnya hidup ini.

Mas Roni juga bercerita bahwa agen koran langganan saya di Jalan Pahlawan selalu menutup kiosnya pukul 07.00 lantaran nyambi ojek online. Ouww...jadi begitu. Berkali-kali berniat membeli koran saat siang atau sore, selalu saja tutup. Ada apakah gerangan. Rasa penasaran saya terjawab sudah.

Sedang asyik berbincang. Datang lagi satu pelanggan. Seperti sebelumnya, Mas Roni juga menanyakan perihal koran yang saya cari. Dengan mantap, beliau mengatakan punya. Koran yang dibeli dari Mas Roni kemarin. Alhamdulillah... Saya pun berniat membelinya. Namun, beliau menolak.

Beliau mengajak saya menyusuri Jalan Panggreman menuju rumahnya. Benar saja. koran Surya masih tertata rapi di atas meja teras beliau. Pak Hari, namanya. Pensiunan guru di salah satu SD Gedeg Kabupaten Mojokerto. Terima kasih, Pak Hari dan Mas Roni. Perkenalan dan pertemuan singkat yang penuh pelajaran berharga. Semoga rezeki dan kesehatan melimpah kepada panjenengan berdua. Aamiin....

Satu hikmah yang dapat saya petik. Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi esok. Prediksi bisa saja dilakukan, namun tak sepenuhnya tepat. Memaksimalkan potensi dalam diri, bersiap diri dengan berbagai alternatif, dan mencoba hal baru rasanya menjadi solusi penting. Mari kita jemput rezeki-Nya yang terserak di seluruh permukaan bumi ini dengan jalan halal dan mulia. Bismillah....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Super... Pantang menyerah

15 Mar
Balas

Hahaha.... Semangat membara. Allahu Akbar!!!

15 Mar

Memaksimalkan potensi dalam diri, keren Neng! Ya isinya, ya bahasanya.

15 Mar
Balas

Terima kasih, Bunda. Sehat dan sukses selalu buat Bunda. Luv luv.... :)

15 Mar

Mantab, ajari donk nulis di koran Bu Uzlifah

15 Mar
Balas

Lho... Suhu kok minta diajari. Huuwwaaaa..... Ayo, Pak Haji belajar bareng :)

15 Mar

Ho. Menginspirasi.

15 Mar
Balas

Terima kasih, Bapak :)

15 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali