Uzlifah Rusydiana

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Membingkai Sejarah Melalui Destinasi Wisata

Membingkai Sejarah Melalui Destinasi Wisata

Judul Buku : Wisata Sejarah Mojokerto

Penulis : Sri Wahyuni Utami

Penerbit : Pustaka MediaGuru

Edisi : 2017

Tebal : 66 Halaman

ISBN : 978-602-5429-67-5

Peresensi : Uzlifatul Rusydiana, Penikmat Buku

Mojokerto menyimpan banyak peninggalan sejarah yang sayang jika dilupakan begitu saja, terutama bagi generasi muda. Desa Wotanmas Jedong yang berada di lereng Gunung Penanggungan Kecamatan Ngoro Kecamatan Mojokerto ini menjadi fokus penulis untuk mengungkap berbagai peninggalan sejarah yang berfungsi juga sebagai wisata sejarah dan edukasi bagi masayarakat Mojokerto dan sekitarnya.

Dengan mengkaji sejarah, dapat diperoleh informasi tentang aktivitas peradaban dari dulu hingga sekarang, mulai dari pertumbuhan, perkembangan, kemajuan, dan kemunduran. Kita dapat mengambil pelajaran dari kehidupan masa lalu. Sesuatu yang baik kita tiru dan kita kembangkan, sedangkan sesuatu yang buruk kita tinggalkan. Kita dapat mengagumi dan menikmati keunikan kehidupan masa lalu beserta karya manusia di masa lalu.

Desa Wotanmas Jedong yang memiliki empat dusun ini sejatinya memiliki banyak tempat wisata yang belum banyak diketahui oleh masyarakat, di antaranya Candi Pasetran, Candi Jedong, Candi Siwa, Goa Catur, dan air terjun.

Candi Pasetran merupakan peninggalan Majapahit yang pertama kali ditemukan di Desa Wotanmas Jedong. Konon, masyarakat berbondong-bondong untuk babat alas dan menghuninya pada abad 910 masehi. Masyarakat menganggap candi ini sebagai makam kuno, bukan sebagai tempat pemujaan.

Menurut Sri Wahyuni Utami, arca-arca yang ada dalam situs Candi Pasetran sebagian besar sudah rusak, namun berkat perawatan dari penjaga, keadaan candi ini masih tetap indah, asri, dengan tamannya yang tampak terawat rapi, menambah daya tarik wisatawan dan pengunjung (hal. 15).

Candi Jedong, merupakan dua bangunan tua yang berbentuk Gapuro Paduraksa. Gapura ini merupakan pintu masuk dan keluar dari kerajaan Majapahit. Daerah ini menjadi tempat peristirahatan para raja Majapahit dan Singosari bersama permaisurinya. Di area Candi Jedong terdapat situs Candi Siwa yang merupakan tempat ibadah mayoritas orang Mojopahit beragama Hindhu kala itu.

Selain candi, wisata alam yang menarik perhatian di Desa Wotanmas Jedong adalah Goa Catur. Goa ini berada di bawah tanah yang hampir datar. Pintunya yang sempit, membuat kita harus merangkak saat memasuki goa. Dinamakan Goa Catur, karena di dalam goa terdapat papan catur dengan anak caturnya yang berbahan batu andesit.

Satu lagi wisata alam yang dikupas dalam buku ini, yaitu air terjun. Hawa sejuk, air jernih, dipadu dengan pemandangan yang memesona menjadikan kita betah berlama-lama menikamti segarnya air terjun ini. Banyaknya rumput-rumput liar yang tinggi di sepanjang jalan menuju area air terjun merupakan pertanda belum banyak pengunjung yang masuk ke area tersebut.

Tradisi Desa Wotanmas Jedong yang masih kental turut mewarnai sajian buku ini. Tradisi masyarakat setempat yang masih berlangsung hingga kini adalah acara ruwah desa. Acara ini dilakukan di bulan ruwah selama empat hari berturut-turut secara bergantian di setiap dusun. Warga merangkai hasil bumi, makanan pokok, dan beberapa sandang yang dikemas dalam sajian khas untuk dikeroyok rame-rame di akhir acara. Pada hari terakhir puncak acara dilaksanakan di latar Candi Jedong dengan kirap dan selamatan (hal. 59).

Buku ini hadir dengan misi memperkenalkan wisata sejarah di Desa Wotanmas Jedong, sekaligus mengungkap fakta dan rahasia sisa-sisa peradaban sejarah pada masa kerajaan Mataram Kuno, yang belum banyak diketahui oleh pelajar dan masyarakat secara luas. Ada sebuah keinginan dari Sri Wahyuni Utami untuk mengajak para pembaca agar lebih peduli dan mencintai wisata lokal sebagai produk peninggalan sejarah masa lampau. Karena, takkan ada yang mampu menyelamatkan cerita sejarah di bumi pertiwi kita selain kita sendiri.

Buku ini menjadi sangat istimewa, karena dalam penulisannya berdasarkan pada tiga sumber, yaitu lisan, tulis, dan benda. Sumber lisan yang digunakan adalah hasil dari wawancara dengan penduduk sekitar. Sumber tertulis berasal dari studi pustaka terhadap bahan bacaan yang setema dengan buku yang digagas, dan sumber benda, yakni benda-benda atau bangunan peninggalan masa lalu yang didokumentasikan sendiri oleh Ibu Sri Wahyuni. Sumber-sumber sejarah itu mempunyai nilai yang sangat tinggi, karena ia menjadi bukti nyata suatu peristiwa di masa lalu.

Melalui bahasa sederhana, mudah dicerna, dan dilengkapi gambar yang diambil oleh Ibu Sri Wahyuni sendiri, menjadikan buku ini lebih mudah dipahami, diingat, dan seolah-olah pembaca benar-benar dibawa pada alam sesungguhnya.

Membaca setiap halaman buku ini, menjadikan kita bangsa yang besar yaitu bangsa yang menghargai dan melindungi budaya sendiri. Jadilah bagian dari pembaca buku ini dan temukan berbagai wisata sejarah yang belum Anda ketahui. Selamat menikmati!

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Aku ingin menjadi bagian dari bangsa yang besar, yaitu bangsa yang bisa menghargai dan melestarikan budayanya.Baarakallah...mbak.

16 Apr
Balas

Bundaku... Aku ingin menulis setiap hari seperti bunda Raihana. Salam hormat, bunda

16 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali